Notasi dan Interpretasi Periode Romantik
Pengantar
Selama beberapa waktu yang panjang ada gagasan yang tersebar bahwa ‘musik awal’ berakhir dengan Bach dan Handel, dan bahwa dari Haydn dan Mozart hingga kini, kita berpijak pada landasan yang kokoh, dengan tradisi yang kontinu yang menghubungkan kita dengan cara-cara penyajian era Klasik dan Romantik. Beberapa tahun terakhir kita melihat periode Klasik dalam sudut pandang yang agak berbeda, dan periode tersebut kini dianggap sebagai wilayah ‘musik awal’. Namun untuk sebagian besar pemusik, garis pembatas antara ‘musik awal’ dan tradisi penyajian yang kita rasakan bersentuhan langsung belum berubah setelah awal periode Romantik. Banyak pemusik modern memperkirakan bahwa partitur Brahms atau Tchaikovsky, atau bahkan Mendelssohn atau Schumann, kurang lebih bermakna sama bagi kita seperti juga bagi teman-teman komponis itu. Bahkan para pemusik profesional muda yang sadar akan perkembangan terkini dalam studi cara penyajian mungkin memainkan lagu Haydn atau Mozart dalam cara ‘Klasik’ yang terbatas, namun memainkan Schumann, Grieg dan Debussy sama seperti mereka memainkan Shostakovich, Messiaen atau Tippett.
Namun sebenarnya pada awal abad ke-21 notasi musikal menyampaikan sesuatu yang agak berbeda kepada kita dibandingkan kepada para pemusik periode Romantik. Hal ini disebabkan bukan hanya oleh suara alat musik dan cara kita memainkannya telah berubah, namun juga karena notasi telah dilihat sebagai sesuatu yang presisi dalam maknanya, baik dalam notnya maupun dalam jumlah tanda-tanda musik yang disediakan oleh para komponis. Bahkan di awal abad ke-20, para pemain musik merasakan bahwa mereka memiliki kebebasan yang lebih besar, terutama (namun bukan hanya) dalam hal ritme dan tempo, daripada yang kita alami kini. Untuk mengatakan bahwa kita memperlakukan notasi secara harafiah tentunya berlebihan, namun kita tentu saja memperlakukannya dalam cara yang jauh lebih harafiah dibandingkan dengan para pemusik jaman dahulu. Kritikan yang pedas mungkin akan diterima oleh pemain musik modern yang memainkan atau menyanyikan ritme yang berbeda dari yang ditulis oleh komponis, yang menginterpolasi grace note untuk menghasilkan portamento, yang memainkan rubato pada saat tidak ditulis dalam partitur, atau yang dalam permainan keyboard tidak mensinkronisasi tangan kanan dan tangan kiri. Namun hal-hal ini nampaknya wajar, dapat diterima, atau bahkan terpuji, bagi para pemusik periode Romantik.
Sikap kita kini terhadap notasi disebabkan sedikit banyak oleh dua fenomena yang tidak saling terkait, satunya intelektual dan lainnya mekanikal.
Fenomena pertama memiliki akar yang dalam pada pemikiran abad ke-19 tentang keagungan seni. Para pemusik dan penulis, terutama di Jerman, mengembangkan gagasan bahwa para pemain musik memiliki tugas absolut untuk merealisasikan keinginan komponis seteliti mungkin: sebagaimana yang dinyatakan Wagner pada 1841, dalam memainkan musik dari seorang komponis, sang pemain musik seharusnya ’tidak menambah atau mengurangi sesuatu: ia sebaiknya menjadi dirinya yang kedua’. Karena dipengaruhi gagasan semacam itu, generasi pemain musik baru mulai bermunculan. Mereka memandang panggilan tertingginya bukanlah menampilkan virtuositasnya dalam cara yang individualistik, namun dalam memasrahkan dirinya secara total kepada keinginan komponis. Salah satu virtuoso awal yang berjenis ini ialah teman baik Brahms, pemain biola Joseph Joachim. Semenjak masa mudanya Joachim telah dinasihati oleh Mendelssohn bahwa ’seorang seniman sejati seharusnya hanya memainkan yang terbaik’; dan, berkaitan dengan para komponis hebat, bahwa ’tidak artistik, bahkan barbar, untuk mengubah apa pun yang telah mereka tuliskan, bahkan satu not tunggal pun’. Jika diterima secara harafiah, nasihat semaca itu nampaknya menganjurkan jenis pendekatan yang menjadi aturan masa kini; namun, sebagaimana ditunjukkan oleh banyak bukti, bukan seperti itu para pemusik abad ke-19 menginterpretasikannya. Benar adanya bahwa kecenderungan umum sepanjang periode Romantik adalah para pemain musik lebih dan lebih lagi menaati petunjuk-petunjuk yang terdapat dalam partitur, namun pada abad ke-20 lah ketepatan terhadap teks komponis diinterpretasikan sebagai ketaatan total seperti budak kepada makna harafiah notasi musikal.
Fenomena kedua yang penting adalah penemuan dan pengembangan perekaman bunyi. Pada awalnya, metode-metode perekaman masih primitif dan terbatas, dan pengaruhnya terhadap pendekatan orang kepada cara penyajian masih sedikit. Namun, khususnya setelah pengenalan terhadap perekaman elektrik di akhir 1920-an, saat rekaman ketimbang penampilan langsung secara bertahap menjadi sarana bagi orang untuk mengenal komposisi musikal, para penyaji menjadi makin sadar tentang apa yang mereka lakukan. Jika anda dapat mendengar penyajian yang sama sebanyak yang anda sukai, bahkan penyimpangan kecil dari apa yang tertulis dalam partitur manjadi lebih jelas, dan menjadi landasan potensial bagi kritik. Sebelum paroh kedua abad itu, orang menginginkan rekaman sebagai versi yang bersih dan klinis dari notasi, dengan interpretasi dibatasi hanya pada nuansa aksentuasi, dinamika dan frasering yang hati-hati dan halus. Hal ini dapat dipahami, karena penyajian individual yang heboh dapat mulai menjadi terdengar beradab jika didengar berulang kali tanpa variasi.
Edisi – teks dan penyajian
Selama paroh kedua abad ke-20, para penyaji menjadi makin terbiasa untuk memainkan edisi-edisi ’Urtext’. Edisi-edisi ini memiliki kelebihan dalam menyediakan teks musikal yang berkaitan sedekat mungkin yang dapat dibuat editornya dengan versi resmi: apa pun yang dipikirkan bukan berasal langsung dari komponis dibedakan dengan jelas sebagai ’editorial’. Jadi anda dapat yakin bahwa jika, misalnya, suatu trill diperlihatkan tanpa turn, anda masih harus bertanya kepada diri sendiri: ’apakah ini ditujukan untuk dimainkan tanpa turn, atau apakah sang komponis hanya menganggap bahwa pemain musik akan tahu sendiri bahwa bagian itu dimainkan dengan turn?’ Beberapa, tetapi tidak semua edisi Urtext akan menyediakan jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan semacam itu, yang mencerminkan pemahaman editor mengenai kehendak komponis. Edisi penyajian semacam itu yang berasal dari paroh kedua abad ke-19 dan tetap menjadi norma bagi sebagian besar abad ke-20 mungkin menyediakan jawaban, yang mungkin mencerminkan cara penyajian editor sendiri. Bagi sebagian besar musik Romantik, edisi penyajian yang lebih tua, yang sering diedit oleh para pemusik terkemuka pada periode itu, dapat berisi informasi yang mengagumkan dan sangat berguna tentang cara penyajian saat itu, termasuk hal-hal seperti aksen, dinamika, frasering, ornamentasi, penjarian dan sebagainya. Edisi yang lebih terkini, misalnya pertengahan abad ke-20 dari musik pertengahan abad ke-19, mungkin mengandung gambaran yang menyesatkan tentang cara penyajian sebenarnya. Namun, betapapun bagusnya edisi tersebut, akan selalu ada banyak yang diperlukan untuk menampilkan musik itu secara meyakinkan yang tidak dimuat dalam notasi itu.







