Notasi dan Interpretasi – Literatur 4




Fleksibilitas tempo dan ritme

Perbedaan besar cara bermain abad ke-19 dan 20 dibandingkan dengan cara kita memainkan musik Romantik adalah tingkat modifikasi tempo di bagian yang tidak ada tanda perubahan tempo. Hampir tidak ada pemusik Romantik yang tidak setuju dengan peringatan Hummel bahwa dalam penggunaan metronom, penyaji harus tidak merasa ‘terikat mengikuti gerakan yang sama dan konstan sepanjang lagu, tanpa memberikan kebebasan pada mereka untuk menunjukkan perasaan’. Namun ada banyak ketidaksepakatan di antara para pemusik Romantik mengenai di mana, bagaimana dan sampai tingkat apa kebebasan semacam itu diijinkan. Jadi, jika anda ingin memainkan musik periode ini dalam gaya yang tepat, penting untuk mengetahui pandangan komponis mengenai hal ini. Hal ini tidak selalu mudah diperoleh: namun ekstrim yang berlawanan dapat diilustrasikan oleh perilaku Mendelssohn dan Wagner. Mereka yang mengenal Mendelssohn mengatakan bahwa dalam bermain ‘ia tidak pernah menginterpolasi suatu ritardando’, dan bahwa ‘ia tidak pernah membuat variasi tempo’. Namun gagasan mengenai Mendelssohn bermain dengan ketepatan metronom adalah hal yang salah, karena Joachim, yang telah dilatih pada masa mudanya oleh Mendelssohn, menyatakan: ‘Mendelssohn, yang betul-betul mengerti manajemen waktu yang elastis sebagai alat halus bagi ekspresi, selalu suka melihat tempo seragam dari suatu gerakan dipertahankan secara keseluruhan’. Wagner, sebaliknya, terkenal dengan kesukaannya mengubah tempo secara ekstrim di dalam satu gerakan. Ketika ia mendirigeni di London pada 1855, seorang kritikus menyatakan bahwa ‘ia memberikan pendahuluan bagi suatu bagian yang penting, atau kembali ke tema – terutama dalam gerakan lambat – dengan ritardando yang berlebihan’ dan bahwa ‘ia mengurangi kecepatan suatu allegro – misalnya dalam overtura atau gerakan pertama – hingga sepertiganya, pada bagian awal frasa cantabilenya’. Nampaknya para komponis seperti Schumann, Dvořák dan Brahms cenderung berada pada posisi Mendelssohn, sementara pendekatan Wagner dianut oleh Liszt dan sejumlah pemusik muda pada abad itu. Rekaman-rekaman awal menunjukkan betapa jauh lebih bebasnya perilaku terhadap fleksibilitas tempo dilakukan oleh para pemusik terkemuka pada periode Romantik dibanding masa kini.

Rubato dan tempo rubato

Istilah ‘rubato’ dan ‘tempo rubato’ sering digunakan saat ini untuk menjelaskan pendekatan kontras terhadap fleksibilitas tempo yang dibuat oleh Wagner dan Mendelssohn. ‘Rubato’ dipakai untuk menjelaskan praktek Wagnerian dalam mempercepat atau memperlambat pulsa dasar musik sesuai dengan kandungan emosi, dan satu-satunya masalah anda dalam menerapkan hal ini terhadap musik Romantik adalah untuk mengetahui di mana tempat yang tepat dan berapa banyak rubato yang digunakan. ‘Tempo rubato’ menyiratkan bahwa, sementara menjaga pulsa dasar kurang lebih stabil, penyaji menahan not-not tertentu lebih lama dan mengkompensasinya dengan memperpendek not-not lainnya. Hal ini merupakan karakteristik pertunjukan abad ke-19, dan banyak pemusik, dari Spohr pada 1832 hingga Eugène Ysaÿe pada awal abad ke-20, menekankan bahwa dalam musik yang melibatkan lebih dari satu pemain, iringan harus tetap konstan sementara solois memanipulasi tempo dengan cara ini. Dalam permainan solo keyboard ada kekurangsinkronan yang sama antara tangan kanan dan kiri. Dalam prakteknya, tentu saja, bahkan manipulasi semacam ini sering menyebabkan fleksibilitas tertentu dalam iringan, sehingga menghasilkan rubato lainnya: namun, in theory, tempo keseluruhan dari suatu gerakan atau bagian jarang terpengaruh. Walaupun beberapa komponis penting akhir abad ke-19, misalnya Grieg, menolak dengan keras rubato yang berlebihan, ia tidak menyetujui sikap kaku terhadap musik Romantik, seperti yang ditunjukkan pada rekamannya. Namun, bagi pemusik masa kini, teknik-teknik ini, yang melibatkan penyebaran ulang nilai-nilai not tertulis, sulit untuk dikuasai.

Fleksibilitas ritmis

Adalah hal yang mendasar dalam pendidikan kita sebagai pemusik klasik bahwa kita harus menuruti dengan ketat nilai-nilai not yang diberikan oleh komponis. Kita diajari bahwa not bertitik tidak boleh dimainkan sebagai triplet, atau not bertitik ganda. Bahkan yang lebih sulit diterima adalah memainkan dua not bernilai sama seakan-akan salah satunya bertitik, atau untuk memainkan not bertitik dari dua not yang sama nilainya. Namun perlakukan semacam itu agak lazim pada pertunjukan abad ke-19. Banyak contoh kebebasan ritmis semacam ini dilestarikan pada rekaman para pemusik yang dilahirkan sebelum atau sekitar pertengahan abad ke-19. Kadang hal ini direkomendasikan bagi tujuan praktis: dalam bernyanyi, misalnya, dimana suatu upbeat boleh diperpendek untuk mengambil napas. Siswa cara penyajian historis telah lama menerima bahwa alterasi ritmis, termasuk hal-hal seperti notes inégales pada musik Prancis abad ke-18, merupakan ciri dari pertunjukan Barok. Kini menjadi jelas bahwa cara yang sama bertahan dalam berbagai bentuk hingga awal abad ke-20. Sering kali hal ini tidak terkait dengan notasi komponis, namun pasti bahwa para komponis sejaman Grieg dapat menuliskan not bertitik, padahal mereka maksudkan triplet, seperti ditunjukkan pada rekaman Grieg sendiri, Humoreske Op. 6 No. 2 (Contoh 2.7). Efek sebaliknya, yakni penambahan titik dapat pula terjadi: sumber tertulis abad ke-19 menyarankannya sebagai suatu aturan dalam berbagai situasi. Wagner dilaporkan menghendaki hal ini terhadap not bertitik tunggal selama latihan Parsifal pada 1882. Elgar mengijinkan, atau bahkan menganjurkannya ketika ia mendirigeni rekaman musiknya. Dalam banyak kasus perubahan terhadap ritme tertulis muncul dari penggunaan aksentuasi yang antusias, yang berhubungan erat dengan teknik ‘tempo rubato’, dimana suatu not penting diperpanjang dan not-not berikutnya dipercepat untuk kompensasi. Rekaman-rekaman awal melestarikan banyak contoh mengenai hal ini dan beberapa modifikasi terhadap ritme tertulis.

Kesimpulan

Mungkin hal terpenting yang patut diingat dalam memainkan musik Romantik adalah bahwa not-not hanya merupakan titik awal. Selain semua rincian pada partitur, masih ada cakupan luas bagi anda untuk menanggapi musik dengan cara yang melampaui notasi. Seperti yang diamati oleh pemain musik besar Romantik akhir, pemain cello Pablo Casals: ‘Not tertulis…seperti suatu terowongan, sementara musik, seperti hidup itu sendiri, adalah gerakan yang terus menerus’.

Create a free edublog to get your own comment avatar (and more!)

Leave a Reply

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image